UUK – Ujung Ujungnya KODE.

Jadi, sudah lama sekali tidak mencurahkan isi hati di sini.

***

Sore yang cerah ini sepertinya menjadi pertanda baik untuk memulai kembali kebiasan lama yang hampir saja terlupakan. Menulis-curhat-di sini.

Sebelum tulisan ini terposting manis, sebenarnya ada banyak pertimbangan. “Kok tulisannya tak sepuitis dulu ya?” atau “Konsep diri blog ini kok berubah sih?” atau “Masa iya mau disama-sama-in sama ABG lain yang tulisannya macam ini“-dan seterusnya dan seterusnya. Tapi toh pada akhirnya tetap diposting juga.

Adalah dia, inisial “N” yang membangkitkan keinginan untuk menulis kembali di blog. Ah, setelah sekian lama! Ternyata rindu juga!. Penasaran siapa N? Ya, selamat berkepo ria. Hihi

***

Beberapa menit lagi menuju jam berangkat ngampus. Tapi semangat menulis kan gak datang dua kali, jadi ada baiknya hasrat ini tidak ditunda-tunda. Jadi inilah coretan-coretan hasil pergolakan antara semangat menulis dan hasrat …. (silakan isi sendiri).

Beberapa jam lagi menuju buka puasa. Berhubung sedang tidak berpuasa, jadi.. ya tetep buka dong! Tapi jangan lupa, kata orang berbukalah dengan yang manis, contohnya  kolak jambu. Kolak jambu? Baru dengar? Kasian.

Beberapa hari lagi menuju gajian. Semoga berdampingan dengan THR. Supaya bisa beli baju baru, celana baru, dan hati yang baru (?).

Beberapa bulan lagi menuju 21. I don’t know about you, but I’m feeling 21st!!!!! Mau kode boleh? Mmm.. Aku lagi pengen naik kereta sama ngeliat pantai! PAHAM KAN? 🙂

***

Inga Kananga

Advertisements

Peri Laut tak bisa berenang

Tengah hari di bulan juli, bumi patut bersyukur.

Lautan tersenyum manja, mengulurkan tangan siap menerima.

Pantai membersihkan diri, bersuka cita.

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu telah tiba.

Lahirnya seorang peri laut, bernama Inga.

Sayang, setelah 20 tahun kini ia masih tak bisa berenang.

By Inga Kananga

#JuneWritingChallenge [Day 01: Introducing]

Detik begitu kejam.
Jutaan kali ia datang, kemudian pergi membawa banyak pertanyaan.

Semalam, tak sengaja kulihat mata indah yang terpejam. Milikmu. Detik pun mendatangkan ragu.

“Apa yang membuatku berada di sini?, melihatnya manja dalam mimpi yang aku tak tahu apakah aku berada di sana”

***

Detik membuatku memperhatikan wajah lelah dengan mata indah–yang sayangnya tertutup. Detik masih tak membantu temukan jawaban. Ragu masih menggantung, mengetuk keras hati yang ringkih.

***

Cahaya berpendar di tengah remang, kepunyaan benda barbar yang disebut gadget. Rupanya ada pesan virtual dari si pemilik mata indah, memosikan diri di deretan paling atas dengan warna paling gelap.

Ah, jawaban bisa datang dari mana saja. Ha! Detik harus malu, cahaya kecil ini sudah seharusnya membuat jutaan detik yang telah lalu membisu.
Inga Kananga Dewi

Kau akan menanyakan beberapa hal. Kemudian menatapku, menunggu jawaban.

Setelahnya hampir selalu kau menghela napas agak panjang, tanda kecewa karena tidak mendapat apa yang diharapkan. Jawabanku, bukan itu yang ingin kau dengar.

Kau menatapku sekali lagi, menjelaskan bahwa pertanyaan yang kau ajukan bukanlah main-main, tapi hal yang serius dan Aku harus menjawabnya pun dengan serius. Sekali lagi menatapku, meyakinkan dan memohon untuk jawaban yang tidak se-sederhana untuk jawaban yang juga tidak se-sederhana itu. Saat itu terjadi, Aku yakin. Aku lagi-lagi dibuatnya jatuh cinta.

Kau masih juga kecewa. Menganggap bahwa Aku tak benar-benar mendengarkan apa pertanyaanmu. Sebenarnya… Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Aku bukan mereka para ilmuwan yang bisa menjawab dengan tepat dan cepat. Aku… manusia biasa, yang terpesona indah matamu, hingga saat ini.

***

“Mau beli apa buat makan malam?”

Dua.
Kamu dan kamu.
Kalian.

Butuh asupan alphabet yang dirangkai menggunakan benang kasur.
Alasnya dari kayu jati yang diiris tipis-tipis, atau direbus terlebih dahulu.
Dibungkus rapih tinta warna warni dan sedikit cahaya dari kunang-kunang kuburan china.

Besok entah lusa, perjalanan puluhan kilometer menanti.
Sudah dalam bayangan–beberapa tuyul berambut tanpa popok, sudah pakai celana katanya.
Tidak memaksa tapi memang harus diberi. Uang.

Kalian.
Kamu dan kamu dan kamu dan kamu dan kamu empat belas kali.
.
.
.
Aku kangen.

Kopi?

Kopi panas di siang bolong. Bukan, ini bukan kopi–ini capucino–pakai coklat granule–sachet.

Adalah Aku, seonggok daging campuran yang bukan celeng seberat 55kg. Aku memilih untuk membuat segala hal rumit menjadi mudah, dan membuat yang mudah menjadi rumit. Itu prinsip hidup, jangan coba-coba diganggu. Kecuali jika kalian bersedia tangannya digunting.

“Love is about take and give”, setidaknya itu yang diucapkan makhluk absurd calon penghuni sarang tokek. Bukan sekadar ucapan, dia membuktikannya.

***

Aku sayang Kamu. Semua tentang Kamu. Aku Jatuh Cinta, sedalam ini—dan sepertinya sudah melewati semua dasar relung laut yang ada–cuma sama Kamu.

Aku rindu Kamu. Aura hidup jiwa dan raga Kamu. Sesak yang tidak ada obatnya, bahkan saat Kamu ada di sini—di ‘rumah’ku.

Aku menginginkanmu. Kamu—satu mimpi baru di hidupku. Mimpi yang hadir untuk menenggelamkan mimpi-mimpi lainnya. Kamu tahu seberapa besar Aku berharap tinggal di Paris? Aku rela menukarnya untuk sekadar melihat senyum manismu meski hanya satu detik.

Aku memujamu. Salahkan Tuhan. Perasaan ini adalah Dia yang memberikan, dan kemudian Dia membuatnya begitu besar, begitu dalam, hingga Dia mungkin lupa betapa ini membuatku melupakanNya.

***

Alay itu wajar, kita masih muda.

Inga Kananga

Sebut aku pengkhayal, seorang yang hampir selalu menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal-hal di luar nalar manusia kebanyakan.

Aku yang berjam-jam masuk ke dalam dunia buku, dan keluar dengan membawa cerita ke dalam realita. Apalagi jika bukan ketimpangan yang akhirnya terjadi.

Mereka bilang aku terlalu asyik dengan imaji akan promateux, kota impian bagi mereka orang-orang macam aku. Jika ‘mereka’ memang ada.

20 tahun umurku. Mungkin sebenarnya puluhan ribu. Tapi tak apa, aku ikuti saja hitungan waktu milik mereka. Mereka… yang bukan aku. Karena jika Aku juga mereka, maka harusnya Aku ucapkan kata ‘kita’. Tapi mereka bukan aku, maka tidak ada kita.

Melewati dunia yang begini begini saja membuatku terbiasa akan budaya manusia sebenarnya. Tapi aku ingin berinteraksi dengan manusia lainnya yang.. seperti aku. Tak usah sama persis, mampu paham bahasa genggaman tangan pun aku sungguh akan berbahagia.

Seperti bodi yang dipertemukan dengan elektra, maka sepertinya kau dan aku pun begitu. Kita menemukan kepingan yang sama. Kita sadar tercipta untuk menjadi bagian dari mimpi masing-masing yang sebentar lagi diraih.

Aku yang menemukanmu! Kau bahkan tak mencariku. Maka dari itu, biar aku saja yang memimpin penyelaman di danau yang hanya kita yang tahu. Biarkan manusia lain merasa iri saat kita mampu menyelam bahkan tanpa peralatan apapun. Kau bahkan tak bisa berenang, aku pun. Tapi kita sama sama senang tenggelam. Maka nikmatilah.

Setelahnya mari beristirahat di rumah. Apakah London, Italia, atau Paris? Itu hanya sisi geografis dimana aku dan kamu akan menginjakkan tanahnya bisa kapan saja. Tapi rumahmu, rumahku… Sejatinya ada ‘di sini’.

Inga Kananga