Author: Inga Kananga Dewi

Menggoda Mimpi

Mimpi menjadi sebuah keasyikan sendiri saat bisa dibagi.

Sensasi saat berada di lorong gelap yang terasa menakutkan, berlari tergopoh-gopoh saat dikejar oleh entah siapa, tenggelam dalam lautan yang seperti tak berdasar, bertemu dengan sahabat-sahabat lama yang bahkan sudah tiada, terbang serasa tanpa beban, melihat pemandangan luar biasa, hingga mimpi bercinta.

Tidak hanya dalam mimpi, sensasi itu pun datang setelahnya, ketika mulai terjaga. Keringat dingin yang keluar begitu deras, kesulitan bernapas padahal tidak memiliki riwayat ashma, hingga ngompol.

Walau bagaimana pun jalan cerita dan siapa pun tokohnya tidak pernah direkam secara sempurna, selalu ada bagian-bagian yang tidak jelas, buram, atau terpotong begitu saja. Menyulitkan si punya otak untuk menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi dalam mimpi–atau mungkin dimensi lain?

Beberapa kali ‘kami’ mengalami mimpi yang hampir serupa, selalu yang buruk, sangat menyebalkan. Kemudian datang pemikiran yang menggoda–“Jangan jangan ini pertanda!”, lalu menghela napas dan merasa khawatir tanpa penyebab yang jelas, sungguh absurd.

Setelah saling bercerita mimpi masing-masing, kami yang biasanya tidur pulas pun ternyata makin sering dihampiri mimpi. Hingga tiap pagi selalu saja diawali dengan “Tadi malam, aku mimpi…” dan ditimpali dengan rasa khawatir atau tawa yang lepas, yang sungguh terkadang percakapan tidak penting seperti itu pun menjadi sarapan yang penuh gizi.

Aku selalu berharap bisa keliling dunia bersamanya, tak apa jika diawali dengan sebuah mimpi sebelum nanti menjadi nyata. Bahkan melihat dia merokok akan menjadi pemandangan yang sangat indah, jika di depan kami terhampar daratan Eropa.

je t’aime, Mul.

Menuju Keping Terakhir

Beberapa hari terakhir sedang dimanjakan dengan pertemuan para anggota supernova–katakan saja begitu. Sudah lama rasanya tak bersua dengan mereka, bahkan kini jumlah mereka bertambah. Ada rasa rindu yang tak bisa dijelaskan, tapi akhirnya terbayar.

Hal paling lucu adalah Aku mengetahui siapa mereka, bagaimana jalan hidupnya, perubahan dari normal menjadi anomali, hingga hal memalukan yang mereka coba simpan sendiri, yang ternyata mereka bahkan tidak menyadari kehadiranku di sini. Mereka tidak tahu bahwasannya ada makhluk yang lebih kasat mata dari mereka yang sedari dulu menelanjangi kehidupan mereka. Lebih parah, bukan cuma Aku.

Entah seribu atau dua ribu atau berapa juta orang yang melakukan hal yang sama. Mereka tahu anggota supernova, meski mungkin beberapa tidak atau belum mengenal semua anggotanya, layaknya Aku dan sedikit makhluk kasat mata lainnya. Tapi mereka, sungguh sungguh, tidak pernah mengetahui siapa ‘kami’.

Kenyataan yang menyakitkan adalah dalam beberapa keping lagi Aku bisa jadi tak akan mampu menelanjangi mereka lagi. Akan ada masanya di mana Aku berpisah dengan mereka, sebuah kenyataan yang dipaksakan, karena sesungguhnya Aku tidak pernah mau. Ada rasa kesal, marah, namun juga lega ketika mengetahui itu, tapi sebagaimana manusia kebanyakan yang kulakukan adalah berdamai dengan kenyaatan itu sendiri.

Kini perlahan tapi pasti, layaknya orang tua, Aku akan melepas keping demi keping kehidupan mereka, untuk nantinya membiarkan mereka menjalani kehidupan, tanpa harus dipelototi oleh Aku dan para pengikut Ibu Suri.

Aku mencintai kalian, tolong kembali suatu saat nanti.

Rokok; Kebahagiaan yang Tidak Umum

Jawaban seorang yang begitu Saya hormati, menyoal kebiasaanya merokok:

Aku ga tau gimana caranya untuk membela diri dalam masalah rokok ini.
Kalo pun aku bilang merokok teh adalah salah satu “kebutuhan” hidup aku, kamu pasti akan sulit mempercayainya.
Iya, dari segi kesehatan, memang tidak ada untungnya sama sekali. Tapi, bisakah kamu lebih sedikit memikirkan sisi diri aku yang lainnya? yang bukan melulu soal “raga” dengan segala tektek bengek di dalamnya itu?
ada kebahagiaan tersendiri, kesenangan tersendiri ketika aku merokok. Kebahagiaan, kesenangan yang mungkin sulit diterima oleh kamu atau siapapun orang di dunia ini yang tidak merokok, komo ku (Apalagi Oleh) tukang (Aktivis; Orang yang melakukan..) kampanye anti-rokok mah. Kebahagiaan, kesenangan yang mungkin sebegitu absurdnya sehingga tidak bisa dianggap sebagai suatu bentuk “kesenangan/kebahagiaan”, da tidak umum.

Maka, bolehkah Aku di sini memberi tanggapan atas jawaban tersebut?

Bapak, Ibu, Teteh, Aa, siapapun yang merasa dirinya merokok dan mungkin mengamini kalimat di atas… Maaf untuk tidak memahami “sisi lain” yang bukan “raga” dengan segala tektek bengek di dalamnya itu. Bahwa Aku, sebagai orang yang bukan perokok tapi bukan pula seorang yang anti rokok, melihat dari “sisi lain” juga.

Jika mengesampingkan efek kesehatan tentunya Aku di sini menjadi pemegang medali kemenangan.

Tapi toh nyatanya para perokok tau akibat apa yang didapatkan jika tetap merokok, maka rasanya percuma membahas dampak buruk dari merokok itu sendiri.

Kemudian, “Kesenangan” apa yang rupanya didapatkan dari para perokok yang tidak akan pernah kami mengerti karena bukan perokok? Justru ada pertanyaan yang muncul, yakinkah bahwa itu menyenangkan atau justru hanya candu semata? yang nyatanya zat yang terkandung pada rokok memang mengakibatkan efek candu bagi penikmatnya.

Satu pertanyaan lagi, jika kini kau memiliki aku sebagai seorang yang mendampingimu, adakah canduku tak sekuat rokokmu?

Mereka Sebut Ini JATUH HATI

3471p_0c_2bAda ruang hatiku yang kau temukan
Sempat aku lupakan kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu di dekatmu?

Katanya cinta, memang banyak bentuknya
Ku tahu pasti sungguh aku jatuh hati

Dipopulerkan oleh Raisa Adriana

struH eroM oN

Kebahagiaan apa yang paling besar dari seorang pecinta?
Jangan menggunakan sudut pandang agama untuk menjawabnya. Karena kau akan terlihat begitu naif dan malaikat serta seluruh keturunannya akan tersenyum mendengarnya.
Aku bukan orang yang sekuler, tapi bisakah kau lebih sedikit humanis?
Aku beritahu padamu, kebahagiaan terbesar seorang pecinta adalah dicintai orang yang kau cinta.
Betapa tidak, hatinya yang getas, yang kau jaga dan usap setiap hari dengan kasih sayang dan perhatian, kau selimuti dengan hati-hati.
Coba berkaca dan bertanyalah, apakah kau masih merasa menjadi seorang manusia?

Iya, kebahagiaan terbesar seorang pecinta adalah dicintai orang yang dia cinta.
Dan dia melakukannya.

Terima kasih.

Kau boleh membelai dan mengecupku. Karena hatiku bergeming. Tetap di tempatnya. Mencintaimu.

Tolong

Kurasa kita sudah saling mempengaruhi. Bagaimana menurutmu?

Menunjukan emosi yang sedang kau rasakan dengan berdiam diri. Hanya berucap ketika menjawab pertanyaan tidak pentingku. Tidak hanya itu, wajahmu kau tekuk—tanda menahan kesal atau amarah atau entah apa itu, yang kuketahui hanya bahwa kau tidak sedang memiliki perasaan bahagia. Apa ini semua kesalahanku?

Kau adalah sosok yang dari awal hingga beberapa menit yang lalu aku anggap sebagai manusia penyabar. Apapun yang menimpa diri dan hatimu kau begitu lihai menyimpannya. Bagaimana dengan sekarang? Kau mulai merajuk, memperlihatkan apa yang kau rasa dan si manusia penyabar pun menghilang.

Ini bukan hal buruk tentu saja, semua orang berhak untuk menunjukan perasaannya, apalagi rasa kesal yang tentu saja sulit untuk dilawan. Kau, kini menjadi manusia seutuhnya. Dengan segala emosi yang mempengaruhimu. Selamat datang!

***

Di sini aku ketakutan, merasa begitu tak berguna dan tak siap untuk kehilangan.

***

Beri aku makian, tamparan, atau jika perlu pukul aku sekeras mungkin. Tapi jangan pernah berdiam diri seperti ini. Itu jauh lebih menyiksa. Aku takkan sanggup. Aku mohon.

Inga Kananga