Month: March 2016

Menggoda Mimpi

Mimpi menjadi sebuah keasyikan sendiri saat bisa dibagi.

Sensasi saat berada di lorong gelap yang terasa menakutkan, berlari tergopoh-gopoh saat dikejar oleh entah siapa, tenggelam dalam lautan yang seperti tak berdasar, bertemu dengan sahabat-sahabat lama yang bahkan sudah tiada, terbang serasa tanpa beban, melihat pemandangan luar biasa, hingga mimpi bercinta.

Tidak hanya dalam mimpi, sensasi itu pun datang setelahnya, ketika mulai terjaga. Keringat dingin yang keluar begitu deras, kesulitan bernapas padahal tidak memiliki riwayat ashma, hingga ngompol.

Walau bagaimana pun jalan cerita dan siapa pun tokohnya tidak pernah direkam secara sempurna, selalu ada bagian-bagian yang tidak jelas, buram, atau terpotong begitu saja. Menyulitkan si punya otak untuk menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi dalam mimpi–atau mungkin dimensi lain?

Beberapa kali ‘kami’ mengalami mimpi yang hampir serupa, selalu yang buruk, sangat menyebalkan. Kemudian datang pemikiran yang menggoda–“Jangan jangan ini pertanda!”, lalu menghela napas dan merasa khawatir tanpa penyebab yang jelas, sungguh absurd.

Setelah saling bercerita mimpi masing-masing, kami yang biasanya tidur pulas pun ternyata makin sering dihampiri mimpi. Hingga tiap pagi selalu saja diawali dengan “Tadi malam, aku mimpi…” dan ditimpali dengan rasa khawatir atau tawa yang lepas, yang sungguh terkadang percakapan tidak penting seperti itu pun menjadi sarapan yang penuh gizi.

Aku selalu berharap bisa keliling dunia bersamanya, tak apa jika diawali dengan sebuah mimpi sebelum nanti menjadi nyata. Bahkan melihat dia merokok akan menjadi pemandangan yang sangat indah, jika di depan kami terhampar daratan Eropa.

je t’aime, Mul.

Menuju Keping Terakhir

Beberapa hari terakhir sedang dimanjakan dengan pertemuan para anggota supernova–katakan saja begitu. Sudah lama rasanya tak bersua dengan mereka, bahkan kini jumlah mereka bertambah. Ada rasa rindu yang tak bisa dijelaskan, tapi akhirnya terbayar.

Hal paling lucu adalah Aku mengetahui siapa mereka, bagaimana jalan hidupnya, perubahan dari normal menjadi anomali, hingga hal memalukan yang mereka coba simpan sendiri, yang ternyata mereka bahkan tidak menyadari kehadiranku di sini. Mereka tidak tahu bahwasannya ada makhluk yang lebih kasat mata dari mereka yang sedari dulu menelanjangi kehidupan mereka. Lebih parah, bukan cuma Aku.

Entah seribu atau dua ribu atau berapa juta orang yang melakukan hal yang sama. Mereka tahu anggota supernova, meski mungkin beberapa tidak atau belum mengenal semua anggotanya, layaknya Aku dan sedikit makhluk kasat mata lainnya. Tapi mereka, sungguh sungguh, tidak pernah mengetahui siapa ‘kami’.

Kenyataan yang menyakitkan adalah dalam beberapa keping lagi Aku bisa jadi tak akan mampu menelanjangi mereka lagi. Akan ada masanya di mana Aku berpisah dengan mereka, sebuah kenyataan yang dipaksakan, karena sesungguhnya Aku tidak pernah mau. Ada rasa kesal, marah, namun juga lega ketika mengetahui itu, tapi sebagaimana manusia kebanyakan yang kulakukan adalah berdamai dengan kenyaatan itu sendiri.

Kini perlahan tapi pasti, layaknya orang tua, Aku akan melepas keping demi keping kehidupan mereka, untuk nantinya membiarkan mereka menjalani kehidupan, tanpa harus dipelototi oleh Aku dan para pengikut Ibu Suri.

Aku mencintai kalian, tolong kembali suatu saat nanti.