Month: April 2015

Detik begitu kejam.
Jutaan kali ia datang, kemudian pergi membawa banyak pertanyaan.

Semalam, tak sengaja kulihat mata indah yang terpejam. Milikmu. Detik pun mendatangkan ragu.

“Apa yang membuatku berada di sini?, melihatnya manja dalam mimpi yang aku tak tahu apakah aku berada di sana”

***

Detik membuatku memperhatikan wajah lelah dengan mata indah–yang sayangnya tertutup. Detik masih tak membantu temukan jawaban. Ragu masih menggantung, mengetuk keras hati yang ringkih.

***

Cahaya berpendar di tengah remang, kepunyaan benda barbar yang disebut gadget. Rupanya ada pesan virtual dari si pemilik mata indah, memosikan diri di deretan paling atas dengan warna paling gelap.

Ah, jawaban bisa datang dari mana saja. Ha! Detik harus malu, cahaya kecil ini sudah seharusnya membuat jutaan detik yang telah lalu membisu.
Inga Kananga Dewi

Advertisements

Kau akan menanyakan beberapa hal. Kemudian menatapku, menunggu jawaban.

Setelahnya hampir selalu kau menghela napas agak panjang, tanda kecewa karena tidak mendapat apa yang diharapkan. Jawabanku, bukan itu yang ingin kau dengar.

Kau menatapku sekali lagi, menjelaskan bahwa pertanyaan yang kau ajukan bukanlah main-main, tapi hal yang serius dan Aku harus menjawabnya pun dengan serius. Sekali lagi menatapku, meyakinkan dan memohon untuk jawaban yang tidak se-sederhana untuk jawaban yang juga tidak se-sederhana itu. Saat itu terjadi, Aku yakin. Aku lagi-lagi dibuatnya jatuh cinta.

Kau masih juga kecewa. Menganggap bahwa Aku tak benar-benar mendengarkan apa pertanyaanmu. Sebenarnya… Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Aku bukan mereka para ilmuwan yang bisa menjawab dengan tepat dan cepat. Aku… manusia biasa, yang terpesona indah matamu, hingga saat ini.

***

“Mau beli apa buat makan malam?”