Month: March 2015

Dua.
Kamu dan kamu.
Kalian.

Butuh asupan alphabet yang dirangkai menggunakan benang kasur.
Alasnya dari kayu jati yang diiris tipis-tipis, atau direbus terlebih dahulu.
Dibungkus rapih tinta warna warni dan sedikit cahaya dari kunang-kunang kuburan china.

Besok entah lusa, perjalanan puluhan kilometer menanti.
Sudah dalam bayangan–beberapa tuyul berambut tanpa popok, sudah pakai celana katanya.
Tidak memaksa tapi memang harus diberi. Uang.

Kalian.
Kamu dan kamu dan kamu dan kamu dan kamu empat belas kali.
.
.
.
Aku kangen.

Kopi?

Kopi panas di siang bolong. Bukan, ini bukan kopi–ini capucino–pakai coklat granule–sachet.

Adalah Aku, seonggok daging campuran yang bukan celeng seberat 55kg. Aku memilih untuk membuat segala hal rumit menjadi mudah, dan membuat yang mudah menjadi rumit. Itu prinsip hidup, jangan coba-coba diganggu. Kecuali jika kalian bersedia tangannya digunting.

“Love is about take and give”, setidaknya itu yang diucapkan makhluk absurd calon penghuni sarang tokek. Bukan sekadar ucapan, dia membuktikannya.

***

Aku sayang Kamu. Semua tentang Kamu. Aku Jatuh Cinta, sedalam ini—dan sepertinya sudah melewati semua dasar relung laut yang ada–cuma sama Kamu.

Aku rindu Kamu. Aura hidup jiwa dan raga Kamu. Sesak yang tidak ada obatnya, bahkan saat Kamu ada di sini—di ‘rumah’ku.

Aku menginginkanmu. Kamu—satu mimpi baru di hidupku. Mimpi yang hadir untuk menenggelamkan mimpi-mimpi lainnya. Kamu tahu seberapa besar Aku berharap tinggal di Paris? Aku rela menukarnya untuk sekadar melihat senyum manismu meski hanya satu detik.

Aku memujamu. Salahkan Tuhan. Perasaan ini adalah Dia yang memberikan, dan kemudian Dia membuatnya begitu besar, begitu dalam, hingga Dia mungkin lupa betapa ini membuatku melupakanNya.

***

Alay itu wajar, kita masih muda.

Inga Kananga