Month: January 2015

Sebut aku pengkhayal, seorang yang hampir selalu menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal-hal di luar nalar manusia kebanyakan.

Aku yang berjam-jam masuk ke dalam dunia buku, dan keluar dengan membawa cerita ke dalam realita. Apalagi jika bukan ketimpangan yang akhirnya terjadi.

Mereka bilang aku terlalu asyik dengan imaji akan promateux, kota impian bagi mereka orang-orang macam aku. Jika ‘mereka’ memang ada.

20 tahun umurku. Mungkin sebenarnya puluhan ribu. Tapi tak apa, aku ikuti saja hitungan waktu milik mereka. Mereka… yang bukan aku. Karena jika Aku juga mereka, maka harusnya Aku ucapkan kata ‘kita’. Tapi mereka bukan aku, maka tidak ada kita.

Melewati dunia yang begini begini saja membuatku terbiasa akan budaya manusia sebenarnya. Tapi aku ingin berinteraksi dengan manusia lainnya yang.. seperti aku. Tak usah sama persis, mampu paham bahasa genggaman tangan pun aku sungguh akan berbahagia.

Seperti bodi yang dipertemukan dengan elektra, maka sepertinya kau dan aku pun begitu. Kita menemukan kepingan yang sama. Kita sadar tercipta untuk menjadi bagian dari mimpi masing-masing yang sebentar lagi diraih.

Aku yang menemukanmu! Kau bahkan tak mencariku. Maka dari itu, biar aku saja yang memimpin penyelaman di danau yang hanya kita yang tahu. Biarkan manusia lain merasa iri saat kita mampu menyelam bahkan tanpa peralatan apapun. Kau bahkan tak bisa berenang, aku pun. Tapi kita sama sama senang tenggelam. Maka nikmatilah.

Setelahnya mari beristirahat di rumah. Apakah London, Italia, atau Paris? Itu hanya sisi geografis dimana aku dan kamu akan menginjakkan tanahnya bisa kapan saja. Tapi rumahmu, rumahku… Sejatinya ada ‘di sini’.

Inga Kananga

Terlahir gadis pantai yang diberikan kepadanya pancaran yang membuat orang mudah jatuh hati.

Pedagang di pulau sebrang mendambanya karena paras yang meski tidak cantik tapi nyaman dilihat..

Nelayan muda menyukai keceriaannya yang seakan tak pernah hilang..

Priyayi kampung sebelah mengaguminya karena ia pandai melukis..

Orangtuanya tentu saja menyayanginya karena memang darah daging mereka..

Keluarga yang lain pun sama, mungkin karena sudah bantu merawat sedari kecil..

Teman-temannya senang padanya karena ia begitu perhatian terhadap sesama..

Bahkan..

Laut dengan senang hati membasuh kaki mungilnya setiap kali ia berdiri di tepi pantai..

Angin pum berlomba-lomba meniup rambutnya yang tergerai..

Pasir putih tersenyum bahagia jika ia berbaring mengistirahatkan diri setelah lelah menari..

Gadis pantai menyadari itu, tapi ia masih merasakan kekosongan di dalam hatinya..

**

Kemudian suatu waktu ia berkenalan dengan senja. Menghabiskan waktu bersama dan berbagi cerita. Semburatnya yang berwarna jingga menerpa wajahnya, memberikan rasa nyaman yang akhirnya membuat hati gadis pantai tak lagi kosong.

Senja melihat sosok gadis pantai sebagai sebuah kesatuan, bukan potongan-potongan puzzle semacam raga, suara, maupun karya. Senja menatapnya dengan cara yang berbeda, dengan rasa cinta yang penuh, dengan cinta yang.. Tepat.

Ya, senja mencintai gadis pantai dengan tepat.

Yang tak senja tahu adalah.. Gadis pantai melakukan hal yang sama jauh hari sebelumnya.

**

Ah.. Senja. Sebaiknya dia tahu, bahwa gadis pantai bukan hanya sekedar mencintainya, tapi bahkan senja telah sekian lama menjadi poros hidupnya. Betapa pagi dan malam tidak ada arti, hanya senja.. hanya senja yang ia damba.

Inga Kananga

AKHIRNYA, PUNYA PANTAI PRIBADI!

#FATCATION 001: PANTAI UJUNG GENTENG

Yeay!! Ketika banyak orang sudah mulai kembali keperaduannya di gedung-gedung kantor, dan berkutit dengan dokumen-dokumen yang semakin menggunung, karena sudah memasuki awal bulan di tahun yang baru. Kita—Aku dan Sahabatku yang gendut (Kita berdua sama-sama gendut) justru bisa tersenyum lebar mempersiapkan kebutuhan untuk liburan. Yup! Betul sekali LI-BU-RAN, aka HO-LI-DAY, aka FAT-CAT-TION. What a feeling!

Bermodal PIN BB dari salah satu anggota backpacker di Kota Bandung, kami merelakan sebutan sebagai tebengers di acara liburan kali ini.

03 JANUARI 2015

Untuk memangkas biaya, parkir gratis di rumah si Gendut adalah hal yang paling masuk akal, berhubung rumahnya dekat dengan meeting point, dan tentu saja lebih aman, maka aku membiarkan motor putihku untuk bermalam di sana, barang 2 hari. Ingat, yang ini GRATIS.

Kita berangkat sekitar pukul 7 pagi di gerbang Tol Baros, Cimahi. Dijemput sebuah mini bus dengan kapasitas sekitar 14 orang, yang hanya terisi 10 orang saja. Artinya, tidak perlu susah payah geser sana geser sini, karena sudah luas adanya, segendut apapun kita.

Sepanjang perjalanan yang bisa dilakukan hanya balur badan dengan minyak kayu putih akibat mabok kendaraan. Ternyata kondisi mini bus ini tidak sebaik yang diharapkan, pun dengan beberapa makhluk yang merokok di dalam mobil, diperparah dengan sang sopir yang ternyata tidak tahu jalan sehingga kita harus memutar-mutar jalan, dan berlubang. Rrrr!!

Entah jalur mana yang kita lewati, namun setelah lebih 14 jam perjalanan akhirnya kita sampai juga. Untuk pertama kalinya kaki ini dapat menginjak daratan. Ketika turun dari mobil—byuuuur! HUJAN. Tuhan, apa salahku Tuhaaaan?

Kita tidak memiliki banyak waktu ketika sampai di sana, yang kita lakukan adalah mencari penginapan yang nyaman murah secepat mungkin, karena waktu sudah mulai gelap, dan sepertinya tidak ada orang yang berkeliaran di pantai ketika malam dan hujan seperti ini. Padahal sepertinya akan indah jika bisa melihat terang bulan di tengah pantai. Sayang, kabut tak mau diajak kompromi!

10157153_832300986808629_7294932959444846108_n

Setelah bernego, akhirnya kita bisa menempati sebuah pondok, “Pondok Adi”, tempatnya lumayan nyaman, 2 kamar tidur, 1 dapur, 1 kamar mandi, 1 ruang tengah, dan teras, dengan konsep saung. Aiiiih, mantap tenan.. Soal harga? Aduh, sepertinya untuk yang satu ini kita ditraktir, haha.. Selamat tidur!

04 JANUARI 2015

Setelah beristirahat dengan tenang, rupanya udara di luar masih belum mau bersahabat. Hingga pukul 9 kita semua masih menunggu di pondok, karena hujan tidak berhenti juga. Sedangkan rencananya, sore nanti kita sudah harus pulang. Sempat terbesit bahwa sepertinya liburan kali ini akan gagal total.

Ketika senyum ini mulai luntur, hari terasa kelabu, sang matahari tiba-tiba bersinar begitu terangnya, hujan pun berhenti. Terima Kasih, Tuhan!

Selama matahari berada di atas kami semua bermain-main di pantai. Sayang, masih saja ada sampah di sana sini. Tapi tetap indah kok, apalagi datang ke sini Cuma modal 280.000! :S

10891597_832321693473225_6542895591477310087_n 10896830_832305103474884_2963949350600012373_n

Kami menghabiskan waktu di pantai dengan india-india-an, saling mengejar satu sama lain, selfie di setiap spot yang ada. Hal-hal kecil semacam itu justru yang membahagiakan, apalagi bisa mengenal teman-teman baru, berbagi cerita, berbagi tawa, hingga kencing di pantai bersama. Apalagi yang lebih menyenangkan dari melupakan kepenatan?

Kemudian sampailah kita di penghujung hari. Hujan mulai turun lagi meski hanya berupa rintik, senja tak mau memunculkan wajahnya karena tertutup awan hitam. Namun, senyum ini, nyatanya masih saja menempel di wajah—pertanda bahwa suasana kelabu ini tak ada apa-apanya dibanding kebahagiaan tadi siang.

10675662_832315360140525_5838272724008346932_n

Mari pulang.. marilah pulang.. marilah pulang.. bersama-sama. Setiap pertemuan tentu selalu diakhiri perpisahan, akhirnya kita pulang dan tidur sepanjang perjalanan karena kelelahan. Hingga sampai kembali di kota tercinta, kami akhirnya berpisah.

Ups! Hampir terlupa, nama asli si Gendut adalah Siti Kurnaesih. Such a good friend!

Esok harinya, pasir pantai masih jelas terasa di sudut-sudut kaki. Ah! Betapa menyengankannya hari kemarin, meski harus melewati banyak rintangan menghadang. Aku bahagia!

Ya, kawan, bahagia itu ternyata sederhana—bisa traveling murah! Wkwkwkwk