Month: August 2014

#YESProject – A World With You

“Aku ingin selamanya begini, melihat dunia dengan caramu. Bersamamu aku bisa menjadi apapun di dunia”

Matahari belum sepenuhnya tenggelam, Jas dan Jane berjalan perlahan di pinggiran pantai menikmati sorotan cahaya yang menghangatkan keduanya. Seharian ini mereka seperti melepas rasa rindu setelah hampir satu tahun tak bertemu, berkendara dari satu tempat ke tempat lain untuk sekedar mendapatkan potret yang Jane inginkan.

**

Pagi itu, saat Jas baru saja bisa memejamkan kedua matanya setelah begadang mengerjakan tugas kantor yang menumpuk, telepon berdering keras. Mulanya Jas begitu malas untuk beranjak, tapi deringan telepon kali ini entah mengapa menjadi begitu berbeda yang akhirnya membuat Jas mengangkat telepon meski sedikit malas.

“Kaynee Cafe, 15 menit dari sekarang” kemudian disambung dengan bunyi tut.. tut.. tut..

Jas menggaruk kepala, tersenyum mengerti. Kantuknya hilang, tergantingkan dengan seberkas senyum dan semangat yang kini memenuhi seluruh tubuhnya. Jas segera mengambil jaket dan dompet, kemudian menghampiri motor butut yang sudah menemaninya selama beberapa tahun ini.

Berjarak sekitar 10 KM dari apartemennya Jas berhenti tepat di depan sebuah Cafe tua yang sepertinya sudah tak terlalu memiliki banyak pengunjung. Motor diparkirkan dan Jas segera memasuki pintu berwarna coklat, melirik langsung ke pojok kanan ruangan dan menemukan sesosok wanita paruh baya yang tak begitu cantik tapi terlihat sangat menarik. Ya, itu Jane.

“Kamu ngebut lagi ya? Aku sudah bilang 15 menit, dan kau sampai bahkan kurang dari 12 menit. Kampret!”, sembari menyeruput kopi hitam Jane mempersilahkan Jas duduk.

Jas melihatnya penuh kegembiraan, wanita ini rupanya makin mempesona meski kulitnya tak lagi seputih dan semulus dulu. Tapi mata itu tetap sama seperti terakhir kali dia bertemu, hijau agak gelap. Jas begitu menyukai mata itu, apalagi ketika dia mampu menatapnya lama dan dalam.

“Nih! Beberapa sudah aku kirimkan ke si Gendut itu, sisanya aku ingin simpan sendiri. Terlalu menyakitkan buatku melihat potret ini berkali-kali dicetak. Kau tahu kan sulitnya mendapat secuil cahaya di daerah itu.” Jane mulai membicarakan pekerjaannya sebagai photographer di sebuah surat kabar di luar kota. Dari mulutnya keluar cacian untuk sang bos dan keluh kesah selama ia bekerja, tapi dia tetap bertahan karena begitu menyukai Photography dan sejarah surat kabar tempatnya bekerja saat ini.

Jane membolak balik beberapa berkas yang dibawanya, sesekali menyeruput kopi yang entah gelas keberapa. Jas masih menatap wajah Jane, baginya tak ada lagi yang begitu indah selain makhluk di depannya.

“Jas, kita ke Paris yuk”, Jane tiba-tiba bersuara, kalimat itu membuat Jas terbatuk-batuk.

Jane tertawa terkekeh melihat ekspresi Jas yang terlihat begitu kaget. Kemudian melanjutkan kalimat yang belum sempat rampung dia selesaikan..

“Kita sewa mobil, gak usah dibalikin. Aku pengen bawa kamu ke Paris, kita ngabisin uang tabunganku semuanya..

Kita pake helicopter ke Cina terus manjat itu dinding yang katanya panjang, cari gunung yang bagus biar aku bisa motret apa aja di ketinggian itu..

Terus kita diving di Bali, kamu suka laut kan.. Sambil liat bintang-bintang pas malem, sambil tiduran di pantai”

Oh, Jane! Tidak pernah berubah. Sedari dulu keinginannya memang selalu aneh, jarang yang masuk diakal. Selama itu pula Jas tidak pernah bisa mengerti, tapi kini dengan mantap Jas menjawab.

“Yuk! gak usah pake helicopter atau mobil. Tuh, kita pake motorku aja”,

Tanpa menunggu jawaban, Jas menarik lengan Jane dan segera setelahnya mereka berkeliling kota menggunakan motor yang beberapa kali mogok dan terpaksa harus didorong. Mereka berhenti dibeberapa taman dan gedung, mengambil banyak foto dan tertawa-tawa seperti anak kecil.

Pantai menjadi tujuan terakhir mereka. Jane segera berlari menghambur ombak, Jas mengejar dan memeluknya tepat ketika air jatuh ke tubuh mereka berdua. Rasanya hangat, Jas seakan tak ingin melepaskan keadaan yang membuatnya begitu nyaman. Sedang Jane mencoba melepaskan diri, dia mencubit punggung Jas dan kembali berlari-lari sembari berteriak, seakan jiwanya yang terkekang kini bebas.

Ketika matahari menunjukan sisi romantisnya dengan mengeluarkan semburat senja, mereka berdua sudah kelelahan dan memutuskan untuk berjalan-jalan sore menikmati sunset yang tak lama lagi berubah menjadi gelap.

Saat itu Jas meraih tangan Jane, membisikan kalimat yang mewakili perasaanya selama ini.

Inga Kananga

Advertisements

#YESProject – 3 Things

Jas berharap semua itu tak pernah terjadi, kejadian pada malam di bulan juli membuatnya tak mau lagi memperlihatkan wajah di depan umum. Bagaimana tidak, seorang remaja yang hendak memberikan yang terbaik ketika menghandiri pesta dansa pertamanya justru menjadi bahan ejekan hampir satu sekolah.
Salah kostum, mati gaya, kecebur di kolam, tertimpa lampu, apa yang lebih buruk dari itu? Oh! Potongan rambut 40-an. Begitu sadar bahwa yang dinilainya sempurna adalah bukan apa-apa bagi teman sekolahnya, jas segera berlari pulang, sambil menangis.

Jas menatap pantulan dirinya di sebuah kaca pada minggu pagi. Mengingat kembali kejadian memalukan yang selama ini disimpannya rapat-rapat, kemudian kembali menangis. Setiap air mata yang turun justru mampu menghilangkan rasa sakit yang dia rasa. Jas menangis, menangis, dan menangis, dan hilang pula rasa sakit itu.
Sore hari menjelang malam Jas berjalan-jalan di sekitar alun-alun kota, kembali dia melihat bayangan wajahnya di kolam. Jas menutup matanya rapat, menarik nafas yang panjang, dan segera tersadar betapa banyak kebahagiaan yang sebenarnya ia terima. Dia tersenyum, berterima kasih atas segala berkah dan kehidupan yang dijalaninya.

Kesulitan yang mengoyak hatinya tak hanya terjadi satu kali, tapi berkali-kali dan Jas selalu mampu menghadapinya. Jas hanya berhenti sejenak, membiarkan satu bab kesemrawutan hidupnya berakhir, kemudian mencoba dan terus mencoba kembali menjalani hidup seperti biasa. Lebih dari sekedar itu, Jas menyusun rencana masa depan yang lebih cerah tanpa melirik kesakitan di masa lalu. Seperti melepaskan beban.
Jas percaya, matahari tetap bersinar meski langit tertutup awan. Maka ia menjalani kehidupan dengan kepercayaan bahwa sedih dan bahagia adalah bagian kehidupan yang takkan pernah bisa ia pungkiri.

I go where I know the love is and let it fill me up inside, gathering new strength from sorrow, I’m glad to be alive

inga Kananga