Month: July 2014

Sahabat yang belum Lawas

Ingin sekali bisa mengembalikan waktu dan mendampatkan kebersamaan yang begitu hangat, memenuhi relung jiwa yang sering kali dingin. Saya bukan kebanyakan orang yang mampu menahan rindu akan kenangan-kenangan manis di masa lalu. Saya benci menangis untuk hal yang sangat jelas tak mungkin bisa terulang, itulah alasan mengapa Saya tidak pernah menyimpan foto-foto lawas.

Mungkin dan sangat mungkin saya akan menyesali hal itu di kemudian hari, merasa kesal tak dapat menunjukan bukti masa muda kepada anak-anak tercinta. Tapi hati ini rapuh, sungguh tak kuasa jika otak selalu membawa bayangan jaman di mana kebahagiaan, kenakalan, kegilaan, kehebohan berbaur menjadi satu, menjadi sungai yang begitu deras sebelum pada akhirnya berhenti di samudera.

Kembali mengucap nama sahabat-sahabat yang terasa manis tapi perih di bibir, mengenal mereka sebagai sosok yang selalu menemani setiap hari dari waktu ke waktu, menggoreskan senyum di wajah yang seringnya pucat pasi. Getaran setiap sentuhan yang membawa hati seakan berada di awang-awang, terbang tak terbatas melintas senja yang teramat jingga. Melewati puncak cakrawala bersama-sama, berteriak menggema membuat guntur malu tuk datang.

Angin membawa haru, membisikkan suara-suara lama saat kita berbagi tawa dan rasa. Hujan di sore hari selalu menjadi suasana paling sempurna kita mendekap satu sama lain, menatap ke dalam mata yang masih liar menjejal dunia yang masih muda. Sudah melewati pucuk namun belum mekar mendewasa. Dengan segala mimpi besar yang selalu kita yakini mampu mencampainya, membuat semua merasa iri dengan jumlah kebenaran yang kita genggam. Bercahaya meski tanpa matahari, mengalir deras meski tanpa air. Kita, dan selalu kita.

Biarkan lagu Saras Dewi dengan judul Lembayung Bali ini menjadi saksi, betapa meski tersakiti rasa rindu kadang pula mengobati. Meski pantai Bali belum tersentuh oleh jemari ini, suatu waktu kami akan kunjungi, bersama.

Menatap lembayung di langit Bali
Dan ku sadari, betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
Bebas berandai mengulang waktu

Hingga masih bisa ku raih dirimu
Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
Masa yang tlah ku ingkari dan meninggalkanmu
Oh cinta..

Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa
Masih ku simpan suara tawa kita
Kembalilah sahabat lawasku
Semarakkan keheningan lubu

Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
Tegar melawan tempaan semangatmu itu
Oh jingga..

Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
Tegar melawan tempaan semangatmu itu
Oh jingga..

Hingga masih bisa ku jangkau cahaya
Senyum yang menyalakan asa diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
Tak terbangun dari khayal keajaiban ini
Oh mimpi..

 

Teruntuk Sahabat-sahabat yang belum lawasku.

 

Inga Kananga