Month: June 2014

Desainer Pujangga, Alien Pecandu Prosa, dan Ulat Bulu bau Kabel Terbakar

Apa yang lebih menyenangkan dibanding menulis tentang seseorang yang memang sedang kau perhatikan gerak geriknya? Makan eskrim? Baiklah, setuju.

Dia bukan seorang ahli ikonologi yang berkharisma seperti Robert Langdon, atau Aktor tampan layaknya Reza Rahardian, bukan pula Michael Jackson yang memiliki suara khas ala King of Pop, apalagi Spiderman yang bisa loncat ke sana ke mari menggunakan jaringnya yang terlampau kuat. Dia adalah seorang desainer, orang yang memiliki kapabilitas untuk mengatur garis, bentuk, warna, typographi hingga menjadi karya yang bisa bernilai milyaran, meski masih belum sekaliber Wally Olins tapi sudah layaklah untuk diperhitungkan. Yah, walaupun jika dihitung sudah ketahuan bahwa dia hanya satu–atau satu setengah–atau dua.

Ingin sekali berkata bahwa “Dia hanya dia, yang biasa saja, yang sederhana”, sayangnya dia lebih dari sekedar biasa. Dari semua teman desainer yang saya kenal dia memiliki satu kelebihan teristimewa, dia pandai merangkai kata layaknya pujangga di jaman Minke di salah satu buku tetralogi buru. Tak perlu ditanya sebaik apa dia dalam meracik harmonisasi kalimat, saya salah satu korbannya. Saya menolak untuk kalah, tapi dia memang pernah mengalahkan saya dalam beberapa kali perbincangan melalui¬†email.

Entah bagaimana, mungkin memang watak seorang desainer dari zaman sebelum masehi adalah berjiwa bebas, begitupun dia. Penakluk gunung, Pemancing ulung, dan ‘bekas’ Presiden Ethiopia. Bukan tempat yang sehat bagi dia untuk sekedar duduk di balik meja, mengotak ngatik gambar hingga mata terlalu lelah hingga menumbuhkan rasa kantuk, memang menyebalkan sekali, kantuk selalu datang kapanpun di manapun, layaknya virus tak tahu diri–seperti temanku yang satu lagi, si ulat bulu (atau biasa juga disebut ratu kabel terbakar).

Ada yang lebih istimewa dari sekedar bisa mendesain dan pandai berpujangga, dia pula adalah salah satu mediator terbaik yang Saya dan si ulat bulu miliki. Kebanyakan orang akan melihat keanehan apabila alien pecandu prosa dan ulat bulu yang selalu berbau kabel terbakar bisa menjadi teman yang baik. Mereka akan selalu menggelengkan kepala melihat betapa kemustahilan ternyata mampu menyatukan kami. Satu orang mungkin hanya bisa mengerti saya, Satu lagi hanya mampu mengertinya, tapi tak ada satupun yang bisa mengerti kami berdua. Nyatanya.. dia bisa.

Inga Kananga

Advertisements

Tanah Airku Indonesia

Sebagai awam Saya bukan bagian dari golongan yang berani berdiskusi mengenai kehebatan masing-masing jagoan mereka. Tapi Saya adalah yang memperhatikan, yang memilah semua informasi yang ada menjadi folder-folder di otak saya untuk kemudian dijadikan referensi untuk Saya memilih nanti.

Miris, perih rasanya hati ini mendapatkan berjuta fakta yang baru diungkapkan setelah sekian lama disembunyikan. Betapa rendahnya tanah kelahiran di mata orang-orang sana, yang hanya memanfaatkan dengan sedemikian cara tanpa sedikitpun memberi iba kepada pribumi yang harusnya lebih layak mendapatkan semua itu.

Seperti dibutakan oleh media pemuja harta, semua fokus terhadap tokoh-tokoh jagoan, padahal ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar melihat dua manusia yang jika disandingkan menjadi angka 10 itu. Tanah kita, Indonesia kita.

Berhentilah menjadi budak para pemimpin yang nyatanya sama-sama manusia juga, lihatlah lebih dekat, dengan nuranimu. Jangan berharap kesejahteraan untukmu sendiri, berusahalah membangun kebaikan untuk alam sekitar, untuk tempat kita menjadi tua nanti.

Apalah arti lembaran kertas dengan nominal? Apalah berton-ton batu berwarna kuning? Apa kelebihan mereka dibanding pepohonan yang sudah jelas memberi kita angin kehidupan, oksigen untuk kita bisa bertahan menjalani dunia yang harusnya menjadi tempat terbaik kedua setelah surga.

Kita semua buta, tapi kita masih bisa merasa.

Untuk jagoan yang nanti terpilih, Selamatkan Indonesiaku, bukan hanya dari para Mafia perusak moral dan pemuja harta, tapi juga dari kelompok yang mendukungmu namun justru menjadi virus yang berkemungkinan sangat besar untuk menghancurkan.

Inga Kananga