Month: April 2014

Buku memang sebuah dunia yang menyempurnakan kehidupan realita saya, membaca pula adalah sebuah pekerjaan yang justru menguras waktu dan dompet saya. Kemudian beberapa diantara mereka akan bertanya tentang siapa penulis favorit saya, sayangnya saya tidak bisa menyebutkan nama yang sama dalam kurun waktu berbeda. Tapi kali ini saya tahu, ada nama Anda di sana. Di sebongkah prasasti di hati saya dengan penjelasan di bawahnya “Penulis dengan Sejuta Pesona–belum menerbitkan buku”. Terima kasih, kini Saya yakin Anda lah selalu penulis favorit saya” – Inga Kananga

Ornamen, Maroon, Aroma

Tempat itu beraroma khas kopi, dengan dinding kaca yang begitu mengundang orang yang melewatinya untuk masuk. Dari luar terlihat beberapa sofa dan meja yang masih belum terisi pengunjung, yah mungkin memang hari masih sore untuk ngopi di tempat macam ini.
Bagiku yang tak terlalu suka keramaian tentu merasa beruntung dengan situasi tersebut, maka melangkahkah kedua kaki ini melewati pintu besar yang sengaja dibiarkan terbuka. Baru selangkah berada di dalam, aroma kopi yang sedari tadi melayang-layang di udara kini sudah memasuki rongga di dada dan secepat kilat memenuhi paru-paru. Sesak sekali, tapi menyenangkan.
Belum lagi duduk, mata ini sudah sibuk menganalisa begitu banyak ornamen-ornamen yang ditempatkan tidak hanya di dinding, tapi juga di meja, lantai, rak-rak, dan bahkan tempat sampah.. untuk tempat yang bisa dibilang modern ini, ornamen-ornamen tersebut justru seperti memberikan sebuah efek magis yang membawa kita seakan berada di dua zaman berbeda dalam satu waktu. Tapi sekali lagi, aroma kopi ini mengalahkan segala hal mengagumkan di sekelilingnya.
Kemudian menemukan spot yang sedikit terasing dengan penerangan redup dan sofa ukuran sedang warna merah maroon, menjadi pilihan yang sangat sempurna untukku bersantai di tempat ini.
Datanglah sang pelayan dan menempatkan secangkir kopi asal tunjuk yang ada di daftar menu di meja kecil tempatku kini, kopi yang berwarna hitam pekat dan ada sedikit rempah mengambang diatasnya. Jangan tanya bagaimana aromanya, karena setelah pulang dari sini aku merasakan teler luar biasa, hingga beberapa hari kemudian aroma kopi yang entah apa namanya ini masih saja bisa kuhirup.
Untuk beberapa bulan kedepan dan mungkin untuk seumur hidupku, Aku akan sangat merindukan tempat ini yang sengaja tak lagi mau kudatangi karena kepercayaanku akan daya yang mampu membuatku tidak bisa konsentrasi dan hanya melamunkan kenangan-kenangan haru di masa lalu dengan tambahan aroma kopi yang mendramatisirkan segalanya. Aku memilih untuk tidak membiarkan air mata terus meluncur hanya karena tempat ini.
Untuk aroma kopi yang begitu luar biasa.

Si Dingin yang Panas

Tak biasanya di satu hari yang terlampau cerah, sosoknya hadir di keramaian yang meski ramai aku masih saja mampu melihatnya, bahkan dengan sangat jelas. Meski aku tak memiliki keberanian untuk menatapnya lebih dari 2 detik saja, apalagi jika harus bertegur sapa—bisa mati berdiri aku dibuatnya.
Sosoknya hadir bagai api, membuat semua ruang di sekelilingku yang sudah membuat badan gerah dan berkeringat ini menjadi lebih panas lagi. Memang dahsyat, tapi aku tidak menyukai rasa ini, tiba-tiba dehidrasi dan bibirku dengan cepat berubah menjadi seperti sawah di musim kemarau, bahasa gaulnya pecah-pecah.
Padahal dirinya tak jauh beda dengan ice cube—dingin. Lalu bagaimana bisa sosok sedingin itu membuat semua rongga di dada ini terasa terbakar? Entahlah.. Geriknyapun benar-benar efektif dan efisien, melakukan hanya seperlunya saja. Tidak sepertiku yang tengok sana tengok sini, dia dengan matanya yang sering kali terlihat tajam tapi kosong hanya fokus terhadap apa yang akan dilakukan.
Saat kondisi hati sudah tak dapat dikompromi, ternyata badan ini lebih memilih untuk melepaskan diri dari pengaruh kehadiran sosok tersebut dibanding harus bertahan. Meski melihat sosoknya mampu membuat senyuman terlukis di wajahku, Aku tetap pergi sejauh mungkin dari tempatnya berada, kini tubuhku merasa kesejukan setelah menjauh darinya, tapi senyuman yang tadi bertengger hilang, dan rasanya ruang hidup menjadi—kosong.

Inga Kananga

Bagian yang tidak Becus!!

Membosankan. Apalagi kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan menulisku saat ini? Padahal bulan lalu kegiatan menulis masih begitu terasa menyenangkan.
Tak disangka, kalimat dari seseorang bisa menjadi begitu merubah sudut pandangku secara keseluruhan. Duh! Punya apa sih tuh orang bisa bikin saya jadi buta begini? 😦

Merindukan buku yang bertuliskan begitu banyak prosa didalamnya. Susunan yang terharmonisasi dengan baik sehingga membuat mata saya tak berhenti bergerak—kiri kanan kiri kanan. Untuk tak sampai meniru gerakan tentara saat baris berbaris. Bisa gawat!
Kalimat yang sederhana tapi bermakna, memaksa untuk dimengerti agar sang pembaca mampu memahami isinya. Yakinlah, satu atau dua atau tiga kali tidak akan langsung membuat otak pembaca langsung tercerahkan mendapat pemahaman. Butuh lebih dari sekedar waktu dan frekuensi membaca. Feel juga dibutuhkan. Kesunyian juga membantu.
Lembar demi lembar yang tidak membuat lelah sama sekali, tidak seperti bacaan di buku pelajaran, yang ada hanya pelangi dan para kurcaci yang berkeliaran di ruang imajinasi dan memberikan kebahagiaan untuk setiap kata yang terlihat jauh lebih indah.

Nah!! Jenis buku baru, baru saja ditemukan. Isinya begitu penuh dengan fakta, begitu penuh dengan kata-kata ilmiah dan modern, tapi tetap bisa memberikan pelangi meski tanpa kurcaci. Tapi–sulit sekali merasa bahagia jika membaca buku ini. Mungkin di bagian otak sub bagian ilmu pengetahuan akan merasa terberkati karena memang sudah lama tak ada lagi ilmu yang bisa masuk. Alih-alih masuk, baru masuk gerbang saja sudah pada kabur–dikalahkan oleh sub bagian imajinasi dan karya yang memang sempat berjaya.
Cukup tangguh rupanya buku ini dalam penyuguhan kata-kata, sehingga sub bagian filterisasi kata-kata sempat kewalahan, dan malah memasukan ke sub bagian imajinasi. Loh? ternyata itu sebabnya terjadi ketegangan, kegundah gulanaan, dan berkurangnya rasa bahagia. Pecat saja pecat, masa mengurusi filterisasi kata saja tak becus! dasar payah!

 

Tanda Tangan Kontrak dengan si Bos Takut

Memiliki ketakutan adalah sesuatu yang wajar, karena takut memang ada di dalam daftar sifat manusia. Hanya tingkatannya saja yang berbeda. Maka tak perlu heran jika Anda menemukan seseorang yang berlari sambil teriak histeris hanya karena melihat badut yang mungkin saja orang lain justru menilainnya begitu lucu dan menggemaskan. Atau saat seseorang pingsan saat melihat kecoa terbang, atau bisa juga saat seseorang menangis terkencing-kencing saat melihat buah semangka. Yah, beberapa orang bilang itu namanya phobia, tapi ya–untuk saya tetap saja rasa takut yang membuat mereka bertingkah seperti itu.

Beberapa orang menunjukan bahwasannya mereka tak takut akan apapun, mereka bilang takut hanyalah untuk mereka orang yang lemah. Apa statement mereka sama dengan penilaian diri sendiri yang menjelaskan bahwa mereka kuat? Tapi, apa memang benar mereka tak takut akan apapun? Lalu mengapa mereka masih menyeberang jalan pelan-pelan jika tidak takut tertabrak misalnya? atau mengapa masih menggunakan gula dimasakan mereka jika bukan takut kurang manis? Atau bagaimana dengan ketakutan akan Tuhan dan kematian? Mungkin dengan pertanyaan seperti itu semuanya menjadi berbeda bukan?

Saya sendiri sering kali menemukan bahwa ketakutan itu bisa hadir kapan saja di mana saja, seperti tidak tahu diri dengan menempatkan dirinya seenak jidat. Bahkan begitu menyebalkan sampai sampai merenggut kebahagiaan yang baru dirasakan beberapa menit lalu. Ketakutan itupun bisa dalam bentuk apapun, yang sekarang sedang saya alami adalah ketakutan akan sebuah kejadian yang saya kira memang akan membuat saya berada di posisi yang tidak nyaman. Ketakutan akan berada di tengah-tengah perdebatan diantar dua orang yang dua-duanya saya sama sekali tak berani untuk menolak. Bahaya sekali.

Lalu kemudian saya hanya memejamkan mata dan berharap itu tidak akan terjadi. Selama saya memejamkan mata berarti saya juga sedang berdoa, dan setidaknya mengurangi rasa takut ini. Sedikit demi sedikit memang berkurang, terutama saat tak ada sesuatu yang akan mengingatkan saya pada ketakutan saya tersebut. Yah, memang dasar sial–orang yang dimaksud melihat saya dan ketakutan saya kembali menggunung, bahkan lebih besar lagi dari sebelumnya.

Begitulah rasa takut hadir dan hidup di sekitar kita. Hadir tanpa perlu berkembang biak, hidup meski tak memiliki satu sel pun, dan bisa bertahan berjuta-juta tahun, mengalahkan kura-kura yang dari jamannya dinosaurus sampai sekarang. Bukan penyakit, tapi kadang sangat perlu untuk dibasmi. Bukan kompetitor, tapi perlu untuk dikalahkan. Lagi-lagi sial–ketakutan tumbuh bersama diri kita, bersarang di seluruh bagian tubuh hingga memenuhi urat-urat kita. Jika kita membunuh rasa takut, maka matilah jua hidup kita. Lalu saya hanya bisa berdamai dengan ketakutan itu, hidup bersamanya dengan tanda tangan kontrak untuk memberikan saya waktu bahagia. Dibawah surat kontrak tertulis tanda tangan saya dengan profesi lengkap : manusia.

B.A.R.U

Terkendala dengan banyaknya pikiran-pikiran tidak jelas yang berkeliaran di setiap sel otak. Alhasil pelangi imajinasi di ruangan ide kosong melompong dan mengakibatkan kertas ini hampir kosong lebih dari berhari-hari.

Maaf untuk itu, tapi kini sudah kembali membawa warna baru untuk mengganti keabu-abuan. Berharap akan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Bukan lagi aku dan kamu, tapi aku dan mereka. Kau di sini tersimpan sebagai kenangan masa remaja yang takkan pernah kulupakan. Sampai jumpa, aku siap berubah.
Bukan jadi power ranger atau sailor moon atau spider girl atau princess disney, hanya sebagai aku yang lebih mau menerima dunia dengan kebobrokannya, aku yang mampu memahami kerumitan teori kuantum, aku yang rela berbagi oreo, aku yang entah bagaimana berubah menjadi seseorang yang mau menerima kritikan sepedas fire wing richeese factory level 5.

Jika dalam proses perubahan ini aku gagal—maksudku belum berhasil, aku akan sangat menerima uluran tangan. Bukan maksud menerima bantuan, tapi hanya butuh dukungan moral. Tapi jika berhasil, aku harap tidak ada lagi yang mempertanyakan kemana aku yang dulu. Sudah pergi bersama arwah masa kecilku, kini hanya ada aku yang baru.

 

Inga Kananga