Month: March 2014

Aku dan Sesuatu

wire bindingNus.. Nus.. Nus..

Apa yang ada di pikiran beliau saat memberikanku sebuah buku berjudul “Desain Komunikasi Visual : Dasar-dasar panduan untuk pemula”?

Aku bukanlah seorang desainer, meskipun menyenangi dunia desain dan hobi mengotak ngatik software macam corel dan photoshop.
Aku bukanlah seorang desainer, meskipun menyenangi karya-karya indah pada sebuah kertas maupun kanvas dan hobi corat coret iseng yang menghasilkan sebuah gambar yang absurd.
Aku bukanlah seorang desainer, meskipun menyenangi pemilihan konsep-konsep kreatif dari sebuah karya seni terutama dalam bentuk visual.
Aku bukanlah seorang desainer, meskipun menyanangi orang-orang dibalik sebuah karya menawan yang menarik hati para penikmatnya.
Aku… bukan.
Aku ingin menjadi seorang desainer, karena aku menyenangi dunia tersebut.
Aku… ingin.
Aku adalah seorang desainer. Bagi diriku sendiri.

yah, aku serba ingin menjadi ini dan menjadi itu. Aku ingin menjadi desainer, penulis, arsitek, internet marketer, profesional engineer, sutradara, penyiar, musisi, photographer, guru, bahkan presenter yang hobinya jalan-jalan dan makan-makan. Aku ingin menjadi banyak hal.
Kadang aku ingin menjadi awan, air, bangau, cicak, kertas, petir, bahkan ingin menjadi satu dari persejuta nanogram antimateri. Akupun ingin begini dan ingin begitu. Tapi pada akhirnya akan menjadi apapun diriku kelak, Aku tetaplah aku. Seorang wanita yang akan tumbuh dewasa dan bangga akan sebuah nama “Inga Kananga Dewi”

Dinosaurus dan Langkah Kecil

tumblr_inline_myi2h63tTs1sssnooDear, Nus..

Ada sebuah pertanyaan yang akan selalu mengalir dan hadir di setiap generasi, dari zaman dinosaurus sampai saat ini—“Kenapa selalu ada perpisahan?”. Dan pertanyaan tersebut hadir hanya ketika seseorang merasa keberatan akah hal itu, merasa tidak rela, merasa tidak seharusnya, dan berharap tidak usah ada saja itu yang namanya perpisahan. Aku pun merasakannya.

Tapi, bagaimana kita bisa tau betapa berharganya seseorang saat tidak ada perpisahan, benar bukan? Perpisahan diciptakan agar semua bisa tahu arti dari menghargai, arti dari rindu, dan arti dari betapa sebuah pertemuan bisa menumbuhkan rasa yang begitu dalam terhadap seseorang. Aku pun memahaminya.

Aku bukan seorang psikolog apalagi ilmuwan, jadi tidak usahlah membahas teori-teori panjang mengenai perpisahan. Aku hanya ingin berbagi bagaimana ‘rasa’ perpisahan itu sendiri, seperti yang kini sedang kualami.. Saat orang-orang mempersiapkan kepergian mereka dan aku tahu bahwa itu adalah gerbang menuju perpisahan. Aku akan sangat merindu mereka.

“Kenapa pula harus berbagi rasa sedih? Memangnya aku siapa? Orang lain malah menghindar dari perasaan macam ini, kenapa seenaknya justru ingin berbagi?”–Tak apa, dengarkanlah sajalah..

Untukku, Ketika menyayangi adalah hal yang baru saja bisa kulakukan untuk menerima kehadiran mereka, aku mampu setidaknya untuk berdiri meski tidak dengan tegak sempurna. Tidak lagi terduduk tanpa tenaga, karena hadirnya kalian lah tenagaku pun hadir. Dan Saat kalian harus pergi… artinya aku takkan lagi mampu berdiri seperti ini. Aku akan membutuhkan tongkat, dan siapa yang mau menjadi sebuah tongkat? Kurasa tak satupun orang mau.

Yah, siapalah aku ini? Meraung hingga mengeluarkan tangisan darah pun takkan mampu menghentikan sebuah perpisahan. Suara parau penuh belas kasih pun tak sanggup menahan langkah kecilnya. Dan sungguh, rasa itu lebih dari sekedar menyakitkan, entah apa namanya, hanya saja di dada ini seperti ada berjuta pisau yang tak hentinya menusuk, tapi aku tak mampu untuk sekedar menangkis tusukan tajam itu. Nus, jangan biarkan mereka pergi..

Sudah cukup. Tak seharusnya aku terlarut dalam lautan kesedihan yang tak berguna seperti ini. Semuanya akan baik-baik saja, sekali lagi aku masih memiliki waktu, dan waktulah yang selalu mampu mengajarkanku untuk melupakan hal-hal yang memang tidak seharusnya diingat. Maka, waktulah pula yang akan membuat kepergian mereka terasa lebih ringan, berubah wujud dari perpisahan yang menyedihkan menjadi kenangan indah yang takkan terlupakan.

Oh ya, ternyata begitulah prosesnya! Rasa sedih dalam sebuah perpisahan hanya sementara saja, sisanya akan digantikan oleh banyak hal yang manis. Pertemuan baru dan kegiatan baru dan tentu saja rasa yang baru. Perpisahan itu ternyata bukan luka yang tak dapat disembuhkan, justru sebuah pembelajaran untuk bisa mendapatkan manis dari sesuatu yang pahit. Cobalah setuju untuk hal ini, Nus..

PESAN SINGKAT DAN PENJARA HATI

Dia datang lagi, Nus.. Setelah lebih dari satu bulan menghilang, setelah semua rasa berhasil dikubur, setelah kumampu tersenyum lepas. Datang dengan entengnya, sekedar menyapa melalui pesan singkat. Kenapa sulit sekali? yang dia lakukan hanya hal sepele seperti itu, tapi semua yang coba kulupakan hadir kembali.

Aku sering menyebutnya pria dengan sejuta pesona, karena memang itulah dia. Entah apa yang dimilikinya yang bisa membuatku seakan berpikir bahwasannya hanya dialah yang sempurna. Aku bodoh, Nus.. Aku tahu, Aku juga sadar jika Aku sudah sangat terlalu berlebihan masih menganggap dia seorang yang lebih dari sekedar teman bermain.

Selama satu bulan ini pun aku mampu untuk melupakannya, mampu untuk tidak memimpikannya setiap malam, mampu tidak merasa sesak saat namanya disebut. Tapi, beberapa jam lalu, pesan singkat itu sampai dan membuyarkan semuanya. Memuntahkan semua kerinduan, yang aku bahkan rindu untuk merindunya. Nus, tolong aku..

Rasa itu berkeliaran lagi, bebas dari penjara yang aku begitu kepayahan untuk membangunnya. Tapi masih tak mampu untuk memblokade satu pesan singkat itu. Hanya satu.. pesan.. yang sangat singkat.. dan aku masih tak mampu? Panggil aku tolol, Nus.. Aku tak masalah. Karena hati ini sudah terlalu rapuh, dan hanya ketika mengingatnya bisa kembali utuh.

Meski setelah utuh akan kembali hancur lebih berkeping lagi, setidaknya masih kuat. Tak apa jika hanya direkatkan dengan selotip, atau lem takol harga lima ratus rupiah, yang penting masih bisa dilihat bentuknya. Tidak seperti pasir.

ETALASE DAN RASA

ImageHi, Nus.

Terkadang semua yang ingin kutulis di sini menguap begitu saja, hilang menyatu dengan karbon dioksida yang aku hembuskan sembarangan. Banyak hal penyebabnya, termasuk karena terlalu senang atau justru sebaliknya, terlalu lelah untuk menceritakan. Tapi kamu selalu membuatku rindu untuk menulis, maka dari itu hari ini kuluangkan sedikit waktuku untuk bercerita kepadamu tentang hal apa saja yang terjadi beberapa hari terakhir.

Dimulai dari kemarin lusa, tepatnya di sore hari menuju magrib. Bersama salah seorang makhluk paling menyebalkan se-jagat raya, berkeliling tempat yang tidak begitu menyenangkan untuk dikelilingi. Hanya beratus etalase kaca beserta isinya yang memang membuat mata serasa berat untuk berpaling, namun lain kata dengan isi dompet yang harus rela berpuasa dan menahan nafsu untuk mengeluarkan isinya yang tidak seberapa.

Kurang lebih menghabiskan waktu tiga jam, sembari mendengarkannya berkisah, memperhatikan gerak-gerik tubuhnya yang kadang menyerupai ulat bulu, menggeliat tapi diam di tempat.. Melihat kesana kemari mencari benda-benda yang akan terasa sempurna dengan bungkus kado berwarna maskulin, dan tertawa bersama untuk hal yang kami sendiri bingung mengapa harus tertawa. Sampai akhirnya kelelahan menghampiri kami berdua, kemudian duduklah kami di sebuah kursi atau entah apa namanya karena bentuknya sangat tidak jelas.

Rasanya tidak lengkap jika pergi ke suatu tempat tapi tidak mengambil kesempatan untuk kuliner, dan karena kami memang pecinta makanan maka berdiskusilah kami tentang tempat mana yang layak (dengan isi dompet) untuk menjadi pelabuhan tempat kami akan melepas rasa lapar nanti. Kami berdiskusi cukup memakan waktu, sayangnya makan waktu tak buat kami kenyang. Tahu kah, Nus? Makanan adalah bahan diskusi yang tidak akan ada habisnya untuk kami berdua, kami bisa saja menghabiskan waktu berhari-hari untuk membicarakan makanan ini, restoran itu, minuman yang seperti ini, dessert yang seperti itu, banyak sekali. Anehnya, kami tidak pernah bosan untuk hal yang satu ini. Mungkin juga hal ini yang membuat berat badan di timbangan menjadi selalu bertambah setiap minggunya. Jangan salahkan aku, aku bahagia jika makan, dan jangan ambil kebahagiaanku hanya karena berat badan yang mungkin dalam beberapa waktu kedepan tidak akan lagi ideal. Bagiku, hidup bahagia lebih baik dibanding memiliki berat badan ideal.

Akhirnya kami memilih pizza hut sebagai pelabuhan kami, dan dengan menu delight karena kami adalah dua orang dengan kantong mahasiswa meskipun bukan mahasiswa. Tak apa, umur kami memang seharusnya lebih cocok untuk duduk di bangku kuliah dibanding meja kantor. Karena hidup adalah pilihan, kami lebih memilih hidup untuk mencari uang dan bersenang-senang daripada hidup untuk mencari ilmu, mencari uang, dan bersenang-senang. Yang pada intinya, kami memilih untuk melewati fase mencari ilmu sebelum mencari uang. Toh, kasarnya belajar bisa di mana saja, kan?

Menu yang kami pilih adalah satu beef and cheese pizza, dan satu spageti yang entah apa namanya tapi rasanya benar-benar menggoyang lidah sampai saat ini, rasanya sungguh luar biasa, nikmat, mantap, dan lebih mirip makanan hotel bintang 8 dibanding restoran cepat saji seperti ini. Rencananya beberapa hari ke depan aku akan memesan menu yang sama jika mampir kembali. Yummy!!! Tidak hanya makanan yang membuatku senang, nus. Ada hal yang aku suka saat makan bersama makhluk ini, makanan memang mediator paling sempurna untuk kami berdua berbagi kisah. Yah, pada intinya kami berdua merasakan persahabatan kami semakin erat, setelah ini kami akan lebih memahami satu sama lain. Tapi kamu tetap nomor satu, Nus.. tenang saja!

Judul untuk tulisanku hari ini pasti sangat tidak sesuai dengan isinya. Biar saja, aku senang dengan pemilihan kata yang seperti itu, hahaha (tertawa dalam hati, yang di bibir hanya sebatas senyuman kecil tapi manis). Bye, Nus!

 

KOPI DAN WAKTU

ImageAloha Nus,

Maaf akhir-akhir ini tak sempat bercerita padamu. Hari yang terlewati sebenarnya selalu menyisakan kisah yang bisa jadi adalah takkan terlupakan. Tapi aku sedang menyenangi menulis dengan bolpoin, di kertas bekas, dan dengan tulisan tegak bersambung. Mungkin kamu heran ya nus, kenapa bisa seperti ini.. Akupun tidak paham mengapa, hanya saja kini aku begitu menyukai kegiatan yang orang bilang sudah terlalu kuno untuk dilakukan. Tapi sama halnya dengan musik yang kusenangi, semuanya berbau kuno. Apa mungkin jangan-jangan aku sebenarnya jiwa orang jaman dulu yang masuk ke raga gadis berumur 19 tahun? Mungkin saja, dan jika benar aku tidak merasa keberatan. Itu artinya aku sudah hidup lamaaaaaa sekali. Barangkali lebih tua dari usia nenek dan kakekku.

Apa yang aku tulis di kertas tak jauh beda dari tulisanku di sini untukmu, nus. Hanya lebih tak teratur, dan beberapa sulit terbaca, ya tulisanku memang tidak lebih baik dari tulisan ceker ayam anak-anak TK yang baru belajar menulis. Tak masalah, yang penting arti dan makna pada setiap kata di tulisanku tersebut. Soalnya hanya ini yang bisa aku banggakan dari diriku, saat aku mampu menyusun kata juga hanya sedikit lebih baik dibanding anak-anak SD yang baru belajar untuk merangkai kalimat. Bangga yang luar biasa, bangga sekali.

Kini aku bercerita padamu ditemani secangkir vanilla latte, salah satu jenis kopi yang masih bisa kuminum. Seperti yang kamu tahu, aku tidak begitu menyukai kopi, ya hanya beberapa saja yang cocok di lidah, Aku lebih menyukai teh, apalagi honey lemon tea-nya Pizza Hut. Hmm.. Latte ini kubuat dengan campuran air yang tidak terlalu panas akibat galon air yang dipasang belum sepenuhnya mendidih. Alhasil rasa nikmatnya berkurang sekian persen. Mematahkan beberapa tangkai pemberantas stressku, karena aku tak mau harus minum kopi lebih dari satu cangkir. Beda halnya jika aku menjilat ice cream, tak apa jika segelas, namun jika kamu berikanku satu truk pun rasanya aku mampu menghabiskannya. Baiklah, tidak sampai satu truk, tapi aku memang mampu menghabiskan begitu banyak ice cream!

Ternyata apa yang kurasakan beberapa minggu terakhir menghilang, rasa kekagumanku pada seseorang itu sudah ditelan waktu. Kasihan waktu, pasti dia tak kenyang.

Wahai waktu, aku tak pernah menyalahkanmu saat kau bergerak terlalu cepat atau bahkan merayap terlalu lambat. Aku pun tak masalah saat kau diam dan sama sekali tak berdetak. Aku hanya ingin kamu tahu, aku sedang berjuang melawanmu. Tenang saja, kau takkan kubiarkan terkulai mati, hanya sedikit percikan darah mungkin tak mengapa, benar kan? Bercanda, Waktu! aku tak mungkin bisa bertarung denganmu. Yang kulakukan justru menjadi sekutumu, untuk melawan dunia, menyusuri jalan yang panjang, melawan arus ruang yang tak pernah kulalui sebelumnya. Bersama Cygnus, Kamu, dan Aku.

Satu pintaku kini waktu, jangan biarkan kopiku dingin. Biarkan dia hangat lebih lama. Layaknya rasa yang siap kuberikan untuk dia, seorang yang menantiku entah dimana. Seorang yang aku tunggu tapi entah siapa. Biar nanti saat kami bertemu, hangat itu masih terjaga dan membawaku ke tempat yang jauh lebih baik dari di sini.
Ingat, waktu.. Aku tak memintamu mempercepat kehadirannya dalam hidupku. Aku hanya minta kau untuk tetap menjaga hangat kopi dan hatiku sembari menunggu kedatangannya. Saat kamu percaya, seseorang pasti akan datang pada saat yang tepat. Dan segalanya akan menjadi indah, ya—indah pada waktunya.